28 November 2015

Workshop Produksi Film SMA Kutasari Purbalingga



Dwi Fatimah, peserta workshop produksi film yang masuk kelas manajemen produksi bagian penyutradaraan sempat berdebat dengan kameraman dan penulis skenario. Mereka memperdebatkan tentang adegan yang akan diciptakan.

"Sebagai seorang sutradara harus bisa mewujudkan adegan yang sesuai antara imajinasi kita dengan lokasi yang ada. Dan bagaimana mengarahkan pemain sesuai tuntutan skenario," ungkap Fatimah menyelesaikan praktik pengambilan gambar.

Siswi kelas X ini sedang mengikuti workshop produksi film yang digelar Papringan Pictures ekstrakurikuler sinematografi SMA Kutasari Purbalingga selama dua hari, Sabtu-Minggu, 28-29 November 2015 di lingkungan sekolah.

Tahun ini, workshop yang masih difasilitasi Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga hanya diikuti sekitar 15 peserta. Namun tidak menyurutkan peserta untuk belajar dasar-dasar produksi film.

Pada kesempatan itu, seperti halnya ekskul sinematografi lain di beberapa sekolah di Purbalingga, dilakukan pemilihan pengurus baru. Ekskul sinema SMA Kutasari pengurus sebelumnya sempat vakum sehingga mempengaruhi jalannya program-program kerja.

Pada pemilihan pengurus baru, Andhika Parahita Putra terpilih secara demokratis terpilih dengan suara mutlak. "Bagi kami, para pengurus baru, ini hal yang lumayan berat, karena pengurus sebelumnya hampir tidak menjalankan program apapun. Namun, kami berkomitmen untuk kembali menghidupkan ekskul sinema yang sudah menjadi andalan sekolah kami," ujar siswa kelas XI ini.

Kegiatan ekskul sinematografi di sekolah mampu mengukir prestasi tak sekedar bergantung pada semangat siswa, namun juga perlu dukungan guru pembina dan pihak sekolah dalam memberi fasilitasi.

Guru pembina ekskul sinematografi SMA Kutasari Drs. Budi Susilo membenarkan bahwa ekskul sinema menjadi salah satu ekskul unggulan di sekolahnya. "Ketika pihak sekolah tahu bahwa ekskul sinema tidak berjalan, kembali berkabar dengan CLC untuk membantu menghidupkan kembali. Kegiatan workshop sebagai cara awal menghidupkannya," jelasnya.

22 November 2015

Workshop Produksi Film SMA Bukateja Purbalingga 2015



Azis Reza tak menyangka pada pilihan putaran kedua setelah tahap kampanye mendapatkan suara terbanyak dari teman-temannya. Artinya, ia didaulat menjadi ketua baru Sabuk Cinema ekstrakurikuler sinematografi SMA Bukateja Purbalingga periode 2015/2016.

"Ya tidak menyangka. Tapi ini amanat dari teman-teman sebagai suatu hasil pemilihan demokrasi, apapun saya harus siap memajukan ekskul sinematografi," tutur Reza usai pemilihan pengurus eksul sinematografi disela kegiatan workshop produksi film yang digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu, 21-22 November 2015.

Sudah menjadi tradisi, ekskul yang keberadaannya sejak 2012 ini melakukan suksesi disela workshop produksi film yang melibatkan anggota baru yang berasal dari kelas X. Sekitar 20 siswa baru siap berproses dan melahirkan karya-karya film pendek.

Workshop yang difasilitasi Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga ini dibagi dalam empat kelas, yaitu manajemen produksi, penulisan skenario, tata kamera, dan tata gambar atau editing. Siswa memilih masing-masing kelas yang diminati agar mendapatkan pengetahuan yang lebih fokus.

Afnestya Happy Kharismatika, seorang peserta yang ada di kelas penulisan skenario, mengakui butuh latihan terus-menerus agar paham bagaimana cara menulis skenario film. "Menulis skenario film itu sangat teknis, karenanya dibutuhkan latihan rutin. Disamping itu, harus sering menonton film dan memperbanyak pengetahuan," jelas siswi yang masih duduk di bangku kelas X ini.

Sebagai salah satu ekskul sinematografi yang bertebaran di banyak sekolah di wilayah Purbalingga ini hampir tidak pernah absen dalam proses produksi film. Program regenerasi merupakan salah satu faktor penting bagi keberadaan ekskul.

Guru pembina ekskul sinematografi SMA Bukateja Meinur Diana Irawati mengatakan, ekskul sinematografi merupakan salah satu ekskul yang rutin dalam menyumbang prestasi bagi sekolah. "Semua akan bergantung pada semangat anak-anak. Kami, guru dan pihak sekolah tugasnya melakukan pembinaan sekaligus fasilitasi," ungkap guru mata pelajara Ekonomi.

08 November 2015

Workshop Produksi Film SMK Muhammadiyah Bobotsari Purbalingga



Di lantai dua, sebagian pelajar sedang berakting, sebagian lain mengotak-atik kamera. Beberapa kali adegan itu berulang untuk mendapatkan adegan yang terbaik untuk kemudian 'dibungkus' dan kamera bergeser mengulang adegan yang sama.

"Benar-benar harus bersabar. Meskipun kamera sudah ditata dengan baik, bila akting pemain belum baik, harus diulang. Membuat film membutuhkan kerjasama tim yang baik, tidak boleh semaunya sendiri," ujar Ninda Apriliani, siswi kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran yang ingin menekuni tata kamera.

Belasan pelajar SMK Muhammadiyah Bobotsari Purbalingga yang tergabung dalam Saka Production ekstrakulikuler sinematografi itu sedang mengikuti kegiatan workshop produksi film pendek. Workshop yang digelar selama dua hari, 7-8 November 2015 ini diadakan di lingkungan sekolah.

Ekskul sinematografi di SMK Muhammadiyah Bobotsari ini tergolong baru. Mereka memulai ekskul tersebut pada smester ini. Sebelumnya, berangkat dari ekskul teater. Sepinya kegiatan, kemudian berusaha memperluas dengan belajar sinematografi.

Kepala SMK Muhammadiyah Bobotsari Toto Widiarto, S.Pd., mengatakan pihak sekolah terus berusaha memfasilitasi siswa sesuai minat dan bakatnya. "Ketika ada inisiatif untuk belajar sinematografi, sekolah pun berusaha melayani siswa dengan cara menggandeng CLC Purbalingga," jelasnya.

Workshop yang difasilitasi Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga ini memberikan materi antara lain, manajemen produksi, penulisan skenario, tata kamera, dan tata gambar atau editing yang dibagi dalam empat kelas. Para pelajar memilih salah satu dari kelas tersebut.

Menurut pegiat CLC Asep Triyatno, workshop produksi film ini memberi dasar pengetahuan bagi siswa tentang produksi film pendek. "Sebagian materi produksi diberikan, untuk selanjutnya pelajar lebih serius lagi belajar seluk-beluk produksi film," terangnya.

24 Oktober 2015

FFP dan Ijolan Gondol Piala Dewantara

Festival Film Purbalingga (FFP) berhasil menggondol Piala Dewantara di kategori Apresiasi Festival Film pada ajang Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2015. Selain itu, film “Ijolan” sutradara Eka Susilawati dari SMA 1 Purbalingga membawa Piala Dewantara untuk kategori Apresiasi Film Fiksi Pendek Pelajar.

Malam penganugerahan digelar Sabtu malam, 24 Oktober 2015 di Benteng Vredeburg Yogyakarta. Ajang penghargaan bagi insan perfilman tingkat nasional yang sudah memasuki tahun keempat ini digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain FFP dan film Ijolan, dua film pelajar dari Purbalingga menjadi nominee yaitu “Sumbangan Dablongan” dari SMA Kemangkon di kategori Apresiasi Film Fiksi Pendek Pelajar dan film “Para Penggali Pasir” dari SMA Karangreja di kategori Apresiasi Film Dokumenter Pelajar.

Direktur FFP Bowo Leksono mengatakan, penghargaan ini sebagai dorongan bagi awak FFP untuk tidak berhenti menggelar festival film. “Artinya kami harus lebih rajin menabung dan lebih berani utang sana-sini untuk penyelenggaraan festival tahun depan,” jelasnya usai menerima Piala Dewantara.

FFP digelar sejak 2007 setiap bulan Mei. Pada Mei 2011, festival yang digagas Cinema Lovers Community (CLC) ini mulai digelar selama sebulan dengan Layar Tanjleb keliling desa di wilayah Banyumas Raya sebagai program unggulannya.

Menurut salah satu juri Panji Wibowo, selain konsisten dalam penyelenggaraan, FFP juga mampu mendekatkan film dengan penontonnya. “Kami menilai, meskipun Festival Film Purbalingga digelar di kota kecil, namun mampu berkontribusi dalam mengembangkan perfilman Indonesia,”ujar sutradara ini.

Sejak AFI 2013, Purbalingga sudah menorehkan penghargaan. CLC diganjar penghargaan Apresiasi Komunitas, sementara film “Langka Receh” diganjar penghargaan khusus dewan juri. Pada AFI 2014, film “Penderes dan Pengidep” diganjar Film Independen Pelajar.

“Sudah dua kali film saya dan teman-teman dihargai Kemendikbud lewat ajang AFI. Semoga ini menjadi pemicu bagi kami dan pelajar di Purbalingga untuk terus membuat film dengan atau tanpa bantuan dari sekolah,” tegas Eka Susilawati.

26 September 2015

Workshop Produksi Film SMA Karangreja Purbalingga 2015



Meski sudah lebih dari dua tahun keberadaan ekstrakulikuler sinematografi di SMA Karangreja Purbalingga, namun baru tahun ini menggelar Workshop Produksi Film. Workshop digelar selama dua hari, Jumat-Sabtu, 25-26 September 2015 di lingkungan sekolah.

Kegiatan yang diutamakan bagi anggota yang masih kelas X ini, kurang mendapat respon baik. Hanya beberapa anggota kelas X yang mengikuti. Sebagian besar anggota siswa kelas XI bahkan kelas XII yang memang belum pernah mengikuti workshop.

"Meski sempat mengikuti produksi film program hibah dari KPK, saya merasa masih butuh banyak pengalaman. Setidaknya dengan mengikuti workshop ini jadi tahu dasar-dasar produksi film," ujar Turmulti, siswi kelas X yang belajar di kelas tata kamera.

Pada kesempatan itu, diperkenalkan materi dan praktek di kelas penulisan skenario, manajemen produksi, tata kamera, dan tata gambar atau editing. Sementara peserta workshop memilih dan masuk salah satu dari kelas tersebut.

Salah satu peserta workshop Ikhfan Juliawan yang masuk di kelas tata gambar mengatakan, workshop ini menjadi penting bagaimana cara mengedit film. "Dibutuhkan latihan terus-menerus untuk bisa dan terbiasa mengedit film," jelas siswa kelas X ini.

Workshop yang difasilitasi Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga ini menghasilkan tiga skenario pendek dan sederhana dari kelas penulisan skenario. Untuk kemudian pagi harinya, diproduksi di lingkungan sekolah.

Sementara Kepala SMA Karangreja Nur Samsudin, S.Pd. Fis., mengatakan pihak sekolah siap memfasilitasi siswa dalam kegiatan ekskul sinematografi. "Kesempatan ada, anggaran pun ada, tinggal bagaimana siswa punya semangat belajar ketrampilan membuat film," tuturnya.