18 Juni 2011

Layar Tanjleb BEM FISIP UNSOED Mengecewakan


Usaha memperkenalkan film-film pendek di kalangan masyarakat kampus yang notabene kaum terpelajar tidaklah mudah. Justru, kendala itu datang dari lembaga yang mengajak kerjasama agar mahasiswa mengenal lebih dekat produk film Banyumas Raya yang memang sudah ada sejak sepuluh tahun silam.

Gelaran Layar Tanjleb Sabtu malam, 18 Juni 2011, sebagai rangkain acara “Semarak Posesif” Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Soedirman (UNSOED) Purwokerto adalah hasil kerjasama dengan Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga.

CLC bertugas menyiapkan program dengan melihat kebutuhan penyelenggaraan dan mengarahkan panitia (dalam hal ini BEM FISIP) terkait teknis dan kebutuhan pemutaran. Program dibuat jauh-jauh hari setelah sebelumnya sempat dibuka kesempatan bagi mahasiswa FISIP yang mempunyai karya untuk bisa dikurasi.

Sudah diduga, panitia dengan seenaknya (karna ketidaktahuan dan susah dikasih tahu), mengobrak-abrik program film yang sudah disusun dan dikompilasi saat pemutaran film. Beberapa film pendek yang dikirim mendadak dipaksa diputar, dan melewatkan beberapa film yang sudah diprogram.

Tempat penyelenggaraan yang sedianya di pelataran parkir Jurusan Ilmu Politik pun dipindah mendadak, yang menyebabkan kekecewaan mahasiswa fakultas lain bahkan masyarakat umum yang ingin mengapresiasi karya-karya film pendek Banyumas Raya.

Manager Program CLC Nanki Nirmanto mengatakan dari awal pihaknya merasa kesulitan menjelaskan dan mengajari bagaimana cara dan aturan dalam pemutaran film. “Kalau film-film yang kami program diacak-acak, kenapa juga mengajak kerjasama dengan kami?,” tutur lelaki yang juga berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UNSOED ini dengan sangat kecewa.

CLC Purbalingga yang dengan sukarela sudah berusaha agar kampus UNSOED, sebagai tempat dimana film pendek Banyumas Raya pertama lahir, menyuguhkan film-film fenomenal di zamannya, justru tidak diperlakukan dengan baik oleh generasi sekarang. Sudahlah…

2 komentar:

grontol jAGUNG mengatakan...

Aku ajah mo nonton musti muter muter gak jelas soalnya gak tahu mau masuk dari mana udah gitu nonton dengan kewas-wasan motor aman ataw gak di tinggal jauh tanpa ada petugas perparkiran ngawasi, acara molor dari jadwal sehingga selesai kemalaman aku nonton cuma dua sesi dari tiga sesi pemutaran, operator dan perangkat kurang canggih sehingga lima belas menit sekali muncul pemberitahuan bahwa perangkat yang di gunakan bukan asli alias bajakan (beuh.. menyedihkan, kalo pake OS berlisensi asli mahal setidaknya ada opensource)

arief saepudin mengatakan...

SEBAGAI MAHASISWA SAYA IKUT TERSERET DLM MSALAH INI,