11 April 2010

Pelajar SMK Negeri 1 Purbalingga Syuting Film “Aku Bukan Malinkundang”


Para pelajar yang didominasi perempuan itu asik berkumpul di sebuah panggung di pelataran SMP Negeri 3 Purbalingga. Ya, mereka sedang mempersiapkan sebuah pementasan drama. Lebih dari itu, pementasan drama bertajuk “Malinkundang” adalah bagian dari satu adegan produksi film pendek fiksi.

Adalah SMK Negeri 1 Purbalingga yang sedang memproduksi sebuah film pendek berjudul “Aku Bukan Malinkundang”. Syuting film dilakukan selama dua hari, Sabtu-Minggu, 10-11 April 2010 dengan mengambil tiga titik lokasi, yaitu Jl. Jend. Sudirman, Jl. Arsantaka, dan pelataran SMP Negeri 3 Purbalingga.

Selama ini, SMK Negeri 1 Purbalingga berharap lahir karya film pendek dari siswa-siswinya. “Seusai workshop bersama CLC, kami mempersiapkan praproduksi sekitar satu bulan,” tutur Dewi Prahesti, sang sutrdara.

Dewi dan teman-teman satu kelompok berharap, setelah karya film mereka jadi, akan memancing teman-teman lain dan generasi di bawahnya berkarya dan berkarya. “Semoga karya kami juga memancing pihak sekolah untuk mengadakan ekskul film, syukur membuka jurusan broadcast,” harapnya.

Terjemahan Bebas
Skenario film ditulis Alfy Aulia yang sudah duduk di kelas XII. Sang penulis menerjemahkan secara bebas cerita rakyat Malinkundang. Malin yang diperankan oleh Yuliana adalah tokoh utama dalam cerita film itu. Ia memiliki hobi bermain drama.

Dalam skenario itu, Malin sedang mempersiapkan sebuah drama yang berkisah seorang anak durhaka pada orang tuanya. Kisah ini, oleh sang penulis, dibenturkan dengan kehidupan nyata si pemeran utama bahwa Malin pun mengalami hal serupa. Malin juga bertindak durhaka pada orang tuanya.

“Saya sudah mempersiapkan cerita ini hampir setahun. Saya merasa bahagia, di hari-hari terakhir sekolah, bisa mempersembahkan yang terbaik buat sekolah saya,” ungkap Aulia. Aulia mempunyai harapan, adik-adik kelasnya akan tumbuh generasi penulis cerita yang mampu diapresiasi banyak orang.

Bersitegang dengan Pihak Sekolah
Pada hari pertama syuting, anak-anak film itu sempat bersitegang dengan pihak sekolah. Lantaran, mereka tidak berhasil memegang kamera sekolah. Padahal, proposal dan surat peminjaman sudah mendapat persetujuan kepala sekolah dan guru pembina OSIS.

“Kami sangat kecewa. Ini kejadian yang kedua kali. Pertama saat kami menggelar workshop beberapa bulan lalu,” tutur Agus Purnomo, salah satu pegiat film di SMK itu. Rasa kecewa hinggap pada anak-anak yang baru pertama kali mau memproduksi karya film pendek itu.

Meskipun masuk hari kedua anak-anak itu berhasil memboyong kamera sekolah, namun tidak dilengkapai peralatan lain seperti tripod dan lampu untuk berproduksi. Akhirnya, kelengkapan alat difasilitasi Cinema Lovers Community. “Bisa saja dari awal kami memfasilitasi anak-anak itu. Tapi kami ingin memberdayakan peralatan sekolah agar kelak, generasi pembuat film di SMK itu tidak repot dalam mengakses peralatan yang ada,” tutur pegiat CLC Nanki Nirmanto. @laeli

1 komentar:

BHIMA SAJA mengatakan...

pusing baca nya ,ngga mudeng