14 Maret 2010

Belajar Sejarah Dunia Lewat Film


Banyak orang menganggap bahwa mata uang yang sudah tidak berlaku sebagai alat tukar tidak memiliki daya tarik. Meskipun mata uang-mata uang tersebut diletakkan dan dirawat secara khusus dalam sebuah museum.

Namun sebenarnya, dibalik benda-benda mati tersebut tersimpan unsur edukasi yang sangat kental. Karena dari sanalah kita dapat belajar berbagai sejarah dunia lewat mata uang logam dan kertas.

Selama dua hari, 13-14 Maret 2010, Daffodil Film, sebuah komunitas film dari SMA Negeri Bobotsari, Purbalingga menggarap film dokumenter terkait Museum Uang Purbalingga yang terletak di Sanggaruli (Sanggar Luru Ilmu) Ecucation Park, Jl. Raya Kutasari Purbalingga, Jawa Tengah.

Museum yang baru diresmikan pada 18 Desember 2008 oleh Pimpinan Bank Indonesia Purwokerto Unang Hartiwan ini memiliki koleksi ribuan jenis mata uang dari 184 negara di dunia. Mulai dari mata uang di masa kerajaan hingga jaman modern disamping benda-benda lainnya.

Menurut Anisah Nur Adinah, sutradara yang biasa dipanggil Nesya, membuat film dokumenter museum uang tidak sekedar belajar membuat film. “Kami sekaligus belajar sejarah dunia karena lebih dari sebulan kami melakukan riset,” ungkapnya.

Media Sosialisasi
Museum Uang Purbalingga dibangun di atas tanah perbukitan sehingga mempunyai landscape yang memesona. Bangunan arsitek dan lingkungan sekeliling sangat elok dipandang.

Museum dengan arsitektur unik ini sangat diuntungkan karena berada satu kompleks dengan berbagai wahana wisata di Sanggaruli meski tidak signifikan bagi pengunjung kalangan anak muda. Karena itu, perlu sosialisasi sebagai salah satu strateginya dengan media audiovisual.

“Kami mempunyai harapan bahwa film dokumenter ini nantinya mampu menjadi ajang sosialisasi Museum Uang Purbalingga bagi kalangan anak muda dan masyarakat luas di luar Purbalingga,” tutur Nesya yang juga masih duduk di kelas XI.

Pembuatan film dokumenter ini merupakan bagian dari program workshop film yang difasilitasi Cinema Lovers Community (CLC) menjelang Festival Film Purbalingga (FFP) pada Mei 2010 nanti.

Pegiat CLC Nanki Nirmanto menjelaskan, film ini nantinya tidak hanya diikutkan pada FFP tapi juga dikirim ke Festival Film Dokumenter bertema Museum dalam rangka Tahun Kunjungan Museum Nusantara 2010.

2 komentar:

pohon untuk kehidupan mengatakan...

Waow sangat kreatif. Sekaligus mengenang tempo dulu.

Singgih Awaludin mengatakan...

kang ana sejarah bobotsatri ra,,???
alovefa.blogspot.com